Biasa DIjatah 5 Juta, Sekali Tak Dijatah Langsung Minta Cerai

Kamis, 15 Oktober 2015 - 18:33
Ilustrasi Perceraian

JUminten ternyata cinta duitnya Jumaun dan bukan orangnya, demikianlah nasib yang dialami oleh pria berusia 47 tahun ini. Jumaun (bukan nama sebenarnya) mempercayakan pengelolaan uang pada sang istri, Juminten (bukan nama sebenarnya). Semua gaji Jumaun diberikan kepada sang istri usai ia menerima gaji. Sayanganya Juminten (43) memiliki ukuran yang lain dalam hal cinta.

Pasangan ini sudah nikah selama 15 tahun, selama waktu tersebut, si Jumintenlah yang memegang keuangan rumah tangga. Semua gaji Jumaun diserahkan kepada Juminten, hal ini mulai berlaku sejak awal mereka menikah. Gaji yang awalnya 800 ribu perbulan, kini berlipat ganda menjadi 5 juta perbulan. Begitu gajian langsung diserahkan pada sang istri, Jumaun tak memegang uang sepeserpun.


Malangnya, gaji bulan Juni 2015 yang lalu tak sebesar baiasanya yaitu cuam 1 juta. Kurang dari jatah istri yang biasanya dapat 5 juta. Mendapat uang cuma 1 juta, si Juminten langsung minta cerai.

Si Jumaun hanya bisa melongo dengan sikap istrinya, padahal gaji Juli dan Agustus 2015 yang lalu disetorkan dengan nominal utuh yaitu 5 juta. Si Jumaun un minta maaf jika Juninya belum bisa memberi uang senilai jatah 5 juta.

Juminten ketat dalam hal pengeluaran, pengeluaran sekecil apapun dicatat Juminten, pengeluaran seribu rupiah pun dicatat Juminten. Apabila Jumaun butuh uang, barulah ia meminta kepada Juminten. Dengan pengelolaan uang ala Juminten, keluarga Jumaun bisa membeli rumah dan mobil.

Namunsekali saja diberi cuma sejuta, si Juminten sudah minta cerai. Si Juminten menganggap sang suami berbohong, meskipun Jumaun telah mengatakan alasanya. Jumaun Juni lalu memang banyak kebutuhan, membantu adiknya yang masuk kuliah. Namun Juminten menuduhnya selingkuh dan tak jujur.

Juminten tetap ngotot minta cerai, meskipun 2 bulan berikutnya ia masih mendapat gaji utuh dari sang suami yaitu senilai 5 juta. Juminten berharap bisa cepat cerai namun gaji sang suami tetap masuk padanya. Ia juga berharap rumah mereka yang di kawasan Nginden, Surabaya jatuh juga ke tangannya. Ia menganggap berkat pengelolaannya, mereka bisa beli rumah dan mobil, sang suami hanya bagian mencari uang. Juminten pun menyewa jasa pengacara profesional untuk memenangkan harta tersebut.

Gugatan cerai Juminten digelar di Pengadilan Agama, Jalan Ketintang Madya, Surabaya. Jumaun yang bekerja di pabrik dengan tegas menolak tuntutan gila Juminten. Ia hanya memberi uang untuk anak-anaknya, tak semua gajinya bakal disetor lagi ke Juminten.




Loading...
loading...

BERITA LAINNYA