Darah Berceceran, Anggota DPRD Mengangkat Meja, Bawahan Walikota Ajak Berduel

Jumat, 18 Desember 2015 - 20:19
Dewan Banting Meja

Hal memalukan terjadi antara eksekutif dengan legislatif di Kota Sungai Penuh, suasana menjadi sangat tidak kondusif, keributan terjadi di gedung DPRD, dan di tempat berlangsungnya rapat pleno perhitungan suara Pilkada Sungai Penuh.

Dalam gedung DPRD Kota Sungai Penuh sungguh berantakan, darah berceceran, pecahan kaca dan kursi berserakan.


"Benar-benar berantakan. Kaca, lemari, dan kursi hancur karena diamuk massa yang menerobos masuk," kata pegawai DPRD Kota Sungai Penuh.

"Tidak tahu siapa yang terluka, mungkin yang ngamuk tadi, luka karena pecahan kaca. Kami tidak berani mendekat tadi, takut terkena pukulan," jelasnya.

"Pada saat paripurna yang membahas RAPBD 2016, memang sempat terjadi keributan. Setelah itu datang puluhan laki-laki, yang mencari orang yang bernama Jaka. Namun karena tidak menemukan orang tersebut, akhirnya mereka marah dan membanting semua barang yang ada," tambahnya.

Selain itu, juga sempat terjadi kejar-kejaran di jalan. Seorang pria dihajar sehingga menderita luka di bagian kepala.

"Ada juga mobil dinas yang hancur, dan penumpangnya dipukuli," ungkapnya.

Berawal dari interupsi dewan yang mempertanyakan mie kadaluwarsa. Mie itu kabarnya diberikan oleh Pemkot Sungai Penuh kepada korban banjir di Desa Paling Serumpun, Kecamatan Hamparan Rawang.

Warga yang mendapatkan mie tersebut kemudian melaporkan kepada anggota DPRD Sungai Penuh, Pahrudin. Siapa nyana, ia kemudian langsung mempertanyakannya pada sidang paripurna.

"Atas nama wakil rakyat, tentu sudah menjadi kewajiban saya mempertanyakan masalah ini, mengapa Pemkot Sungai Penuh memberikan bantuan mi kepada korban banjir yang sudah kedaluwarsa," tanya Pahrudin.

Wali Kota Sungai Penuh bukannya memberi jawaban, ia malah berteriak. Sontak SKDP yang hadir juga ikut berdiri dan seakan-akan akan menyerangnya untuk melindungi Wali Kota Sungai Penuh.

Keributan tidak dapat dihindarkan. Tidak dapat menahan emosi, ada anggota dewan yang mengangkat meja. Dari pihak eksekutif juga tidak tinggal diam, bahkan ada yang menantang semua anggota dewan berduel di halaman kantor DPRD Sungai Penuh.

"Saya minta kasus ini diusut tuntas. Berapa banyak masyarakat yang bisa keracunan, akibat mengonsumsi mi yang sudah tidak layak lagi," kata Pahrudin, yang menyebut masa layak konsumsi mi tersebut tertanggal 2 Januari 2015.

Terpisah, Wali Kota Sungai Penuh, Asyafri Jaya Bakri (AJB), mengaku tidak bisa menahan emosinya saat sidang paripurna. Namun ia memiliki alasan.

"Saat saya ingin menjelaskan, saya dipotong terus. Saya tidak diberikan kesempatan bicara, sehingga saya memekik karena tidak sanggup lagi menahan emosi," kata AJB.

Ketua Fraksi PDIP, Hardizal, meminta kepada aparat penegak hukum, mengusut masalah ini.

"Kami akan kawal masalah ini, karena sudah menjadi tindak pidana. Tidak hanya ke Polres, kalau perlu kami lapor hingga ke Polri," ancamnya.

Soal adanya ancaman terhadap anggota dewan saat paripurna, Hardizal mengatakan dari dulu sudah menyampaikan kepada Ketua DPRD, agar saat paripurna Wali Kota tidak membawa pengawal pribadi, apalagi masyarakat umum.

Kapolres Kerinci, AKBP Sri Winugrono, diwakili oleh Waka Polres Kerinci, Kompol Katino, berjanji akan mengusut tuntas dugaan bantuan mie kedaluwarsa ini.

"Mie yang sudah diserahkan kepada kami, akan menjadi alat bukti," sebutnya.

Dia juga mempersilakan kepada anggota DPRD Sungai Penuh, untuk mengawal kasus ini.

"Kalau terpenuhi unsur pidananya, kasus ini pasti akan kami tindak sampai tuntas," ucapnya.






Loading...
loading...
Loading...

BERITA LAINNYA