Gara-Gara Cucian Kusut, Pemilik Laundry Digugat 210 Juta Oleh Pejabat, Begini Kronologinya

Kamis, 06 Oktober 2016 - 19:50
Mualimin Dan Postingan Budi

Netizen dibuat heboh dengan postingan seorang pengguna faceook bernama Budi Imam, Selasa (4/10/2016). Lantaran Budi mengaku terlibat masalah dengan Mualimin Abdi, SH. MH, seorang pejabat. Masalah ini berujung dengan gugatan hukum yang dilayangkan oleh Direktur Jenderal Hak Asasi Manusia (HAM) tersebut. Mualimin meminta ganti rugi yang sangat besar yaitu 210 juta untuk persoalan sepele yaitu pakaian yang dicuci di laundry milik Budi kurang rapi dan rada susut.

"Mohon doanya temen temen Fb besok tgl 5 saya sidang di pengadilan digugat oleh Dirjen HAM Bpk Mualimin Abdi SH.MH, gara gara masalah laundri di tempat ane kurang rapi dan ada susut dikit," tulis Budi Imam di linimasa Facebook-nya.


Padahal, imbuh Budi, sudah ada ketentuan di laundry milikinya bahwa pakaian yang susut akan diganti 10 kali lipat dari tarif semua laundry.

"Padahal sdh ada ketentuan bila susut krn bahan di ganti 10x lipat dari tarif semua laundri," tulis Budi Imam.

Meski ada ketentuan tersebut, tulis Budi, pihak Mualimin malah minta ganti rugi dengan jumlah yang sangat fantastis.

"Begitu eh enga mau mala mibta ganti 210.000.000 yg 10 juta harga jas dan 200.000.000 in materil (engga bisa pake jas utk acara kenegaraaan dan pernikahan dan acara lainnya)," tulis Budi Imam.

Selain menuliskan status tersebut, Budi Imam juga mengunggah foto surat panggilan dari Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Di foto lainnya, diperlihatkan pula jumlah kerugian yang diminta oleh penggugat yang tertera di surat panggilan tersebut. Postingan Budi Imam itu menuai simpati dalam bentuk komentar dan dibagikan oleh ribuan pengguna Facebook. Menanggapi postingan itu, salah seorang netizen bahkan berkomentar.

"Apa mesti rakyat mengumpulkan dana buat beli jas pejabat? Apa seorang pejabat tidak pernah melakukan kesalahan terhadap rakyatnya?" tulis salah seorang netizen.

Kronologi

Gugatan Rp 210 juta yang dilayangkan Dirjen HAM Mualimin Abdi kepada pemilik Fresh Laundry, Imam Budi, dimulai saat office boy menitipkan jas milik Mualimin kepada Imam Budi untuk dirapikan.

Menurut Imam Budi, saat itu office boy Mualimin mengatakan jas harus selesai dirapikan dalam sehari karena akan segera dipakai oleh pejabat Kementerian Hukum dan HAM itu.

"Tapi kalau sehari bisa diproses dengan paket reguler. Kalau yang dry cleaning tidak bisa karena butuh waktu sekitar 3 hari paling cepat," ucap Imam Budi saat ditemui di rumahnya di kawasan Jalan Pedurenan Masjid, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (5/10/2016).

Office boy menyetujui paket reguler dan besoknya Imam Budi menyelesaikan pesanan Mualimin tepat waktu. Tapi karena menemukan hasil setrika yang kurang rapi dan ada kusut sedikit Mualimin komplain lewat office boy-nya tersebut.

"Saya sudah mengakui salah dan siap mengganti 10 kali lipat dari biaya laundry awal satu jas yaitu total Rp 250 ribu. Tapi ia menolak dan menuntut Rp 210 juta lewat surat gugatan yang dikirimkan pas Agustus 2016 lalu," ujarnya.

Jumlah sebanyak itu terdiri dari pengganti jas seharga Rp 10 juta dan Rp 200 juta sebagai ganti kerugian in materiil (fungsi jas tidak optimal) karena tidak bisa digunakan untuk acara kenegaraan dan lain-lain.

"Surat izin mengemudi dan KTP saya juga ditahan. Seharusnya kan tidak boleh. Saya juga rugi in materiil karena kalau tak ada SIM dan KTP saya tidak bisa kemana-mana," ungkapnya.

Namun saat ini gugatan tidak dilanjutkan Mualimin dan diselesaikan dengan kekeluargaan lewat sidang tadi siang sekitar pukul 10.00 WIB sampai 13.00 WIB di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

"Saya bersyukur beliau tidak melanjutkan gugatan. Kami berhubungan baik sejak lama, usaha laundry milik saya juga tidak akan ada tanpa dorongan dari beliau juga," ungkap Imam Budi.




loading...

BERITA LAINNYA