Iron Man Indonesia Diduga Pembohong

Jumat, 22 Januari 2016 - 14:14
Tawan

NamaWayan Sumardana (31) ramai dibicarakan beberapa hari ini, ia mendapatkan julukan Iron Man Indonesia atau Manusia Robot. Hal ini lantaran warga Desa Nyuhtebel, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, Bali ini dikatakan berhasil menciptakan tangan robotik buatannya.

Berawalpada pertengahan 2015, pria yang karib disapa Tawan itu terkena stroke, yang mengakibatkan tangan kirinya lumpuh.Pekerjaannya sebagai tukang las turut terancam karena kondisi itu. Sebagai tukang las, dirinya tak bisa bekerja dengan satu tangan saja. Dia akhirnya mencoba berkreasi membuat tangan robot.

Tawan mengklaim tangan robotnya bisa digerakkan dengan menggunakan perintah otak. Alat serupa mahkota di kepalanya, konon berfungsi memindai aktivitas (gelombang) otak, yang lantas diterjemahkan sebagai gerakan.

"Cara menggerakkannya sesuai perintah pikiran sendiri kalau mau angkat, mau belok kanan, atau kiri," ujar Tawan.

Jebolan Sekolah Teknik Menengah (STM) Rekayasa, Denpasar (2002) itu mengaku tangannya digerakkan dengan sistem Electroencephalography (EEG), yang memungkinkan mesin menangkap aktivitas elektrik di otak.

Sebelum menggunakan sistem EGG itu, Tawan sempat melakukan percobaan tujuh kali.

"Tujuh kali ganti sistem, dari pakai remote, bluetooth, pernah pakai ponsel Android juga tapi cepat hang," kata dia.

Tawan mengaku orang lain tak bisa memegang tangannya itu.

"Kalau orang pegang ini ya kena setrum. Tapi kalau saya sendiri yang memakai alat ini tidak (tersetrum). Biasanya jam 24.00 malam saya charge sampai jam 7.00 pagi. Kalau kekuatannya tergantung pemakaian," kata dia.

Ia juga menyebut bahwa karya itu masih dalam penelitian, yang terus dievaluasi demi penyempurnaan.Kreasi dan perjuangan Tawan menjelma viral di media sosial. Media pun ramai mengabarkannya.

Di sisi lain, tangan robot milik Tawan ini juga diterpa suara keraguan dari sejumlah netizen. Salah satu yang ramai menyita perhatian adalah komentar dari akun Facebook, M Asad Abdurrahman.

Asad menyebut kabar ini sekadar hoax (bohong) belaka. Ia menunjukkan sejumlah kejanggalan, misalnya soal penggunaan motherboard komputer, dan Printed Circuit Board (PCB) bekas--termasuk yang biasa ditemukan pada tetikus (mouse).

"Orang bisa saja memakai ulang komponen seperti resistor, kapasitor dan lain-lain pada perangkat lain. Tapi tidak demikian dengan PCB, karena tiap perangkat mempunyai PCB yang berbeda ... Jadi kalau mau buat perangkat yang berbeda, maka harus mendesain PCB untuk perangkat tersebut," demikian argumen yang disampaikan Asad.

Hingga artikel ini ditulis (22/1/2016), salah satu posting dari Asad telah menuai lebih dari 1.000 tanda suka, serta dibagikan sekitar 1.500 kali.

Web blog teknologi asal Malaysia, SoyaCincau, turut mengutarakan keraguan mereka dalam kisah ini. SoyaCincau berargumen, stroke mengakibatkan sel otak yang mengatur fungsi motorik tubuh rusak, hal itulah yang membuat lumpuh.

Mereka pun melempar pertanyaan, lebih kurang: Bagaimana caranya alat itu (tangan robot) bisa menangkap gelombang dari sel otak yang sudah mati?

SoyaCincau juga membandingkan karya Tawan, dengan hasil riset yang disponsori Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA), sebuah lembaga di bawah Departemen Pertahanan Amerika Serikat. Penelitian itu berhasil menciptakan tangan palsu yang bisa digerakkan otak, serta merasakan sentuhan.

Namun untuk bisa melakukannya, para peneliti jenius membutuhkan dana yang sangat besar. Adapun Tawan menyebut tangan robotnya dibangun dari barang bekas. Bilapun ada pengeluaran, hanya Rp4,7 juta, untuk pembelian (via online) sensor EEG, yang berfungsi sebagai komponen kunci.

Sekadar informasi, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, M. Natsir, berencana bertolak ke Bali guna mengecek kebenaran informasi tentang tangan robot karya Tawan. Tempo.co melaporkan, apabila temuan Tawan terbukti, pemerintah berniat mendorong pengembangannya.

"Semua inovasi dari anak bangsa akan kami dorong untuk bisa jadi industri," kata Natsir, di kompleks Istana Kepresidenan, Kamis (21/1).




loading...

BERITA LAINNYA