Mami Yola, "El Chapo" Dari Matraman

Kamis, 28 Januari 2016 - 10:53
Keluarga Mami Yola

Mami Yola, meskipun sudah lanjut usia, namun ibu ini bukan sembarang orang. Ia disamakan dengan El Chapo, sebutan bos besar narkoba di Meksiko. El Chapo biasanya dijaga oleh sejumlah pengawal atau centeng di kediamannya. Pihak Meksiko bahkan menurunkan militer untuk bisa menangkap penjahat kelas kakap ini. Dibandingkan dengan mami Yola, memang tak sebanding. Namun Mami Yola bak mafia kecil, ia juga memelihara centeng seperti halnya El Chapo. Bahkan Mami Yola memerintahkan anak buahnya untuk melawan aparat kepolisian, ia merupakan "El Chapo" dari Matraman.

Bandar narkoba Mami Yola disebut-sebut sudah lama membuka bisnis haramnya di Jl Slamet Riyadi 4 Kebon Manggis, Matraman, Jakarta Timur. Adanya perlindungan dari oknum warga, membuat bisnis Mami Yola aman dari pantauan aparat polisi.

"Kalau dilihat dari rekeningnya, dia mulai bisnisnya dari tahun 2012. Dia diduga mengedarkan putau dan sabu," ujar Direktur Narkoba Polda Metro Jaya Kombes Eko Daniyanto di Jakarta, Kamis (28/1/2016).

Sejak tahun 2014, saldo di rekening Mami Yola meningkat cukup tajam. Tercatat saldo di rekeningnya saat itu mencapai Rp 12 miliar lebih. "Tapi berputar terus, dia ada gunakan Rp 6 M beli barang, diputar-putar saja uangnya," imbuhnya.

Sejak 2012 itu, Mami Yola tidak terendus oleh aparat polisi. Salah satu hal yang membuatnya 'aman' beroperasi di gang sempit itu, karen ada sikap permisif dari oknum warga sekitar yang mengetahui dan sekaligus juga menjadi penikmat barang haram tersebut yang kemudian melindungi keberadaan bisnis Mani Yola ini.

"Tetangganya yang kemarin yang sederet rumahnya itu kita periksa, tes urinenya positif. Berarti kan dia (tetangga) menggunakan juga di situ," ujarnya. Di lokasi juga petugas menemukan sejumlah alat jarum suntik yang mengindikasikan tempat Mami Yola tersebut sering digunakan sebagai 'warung narkoba'.

Indikasi lainnya, ada upaya perlindungan dari warga yang berdekatan dengan rumah Mami Yola. Ini dilihat dari banyaknya oknum warga sekitar yang kemudian bereaksi ketika Mami Yola berteriak 'basi' ketika aparat polisi menggerebek rumahnya pada pekan lalu itu.

"Kalau menurut analisa saya, yang gang sempit rumah panjang ini sudah pasti melindungi. Harusnya, ketika aparat datang, harusnya dia memback up polisi dong, tapi diam saja," tambahnya.

Teriakan basi dari mulut Mami Yola ini membuat centeng-centengnya berdatangan ke rumahnya. Mereka membawa senjata tajam berupa golok, parang, sanurai dan belati lalu mengeroyok Iptu Hariadi Prabowo serta (alm) Bripka Taufik, Brigadir Patrik dan seorang informan bernama Cibe.

"Mami Yola ini bilang ke anggota 'ah basi nih basi sprintnya (surat perintah penangkapan)'. Kemudian dia berteriak-teriak sehingga pada berdatangan ke lokasi," ungkap Eko.

Selain teriakan Mami Yola, preman-preman yang membekingi juga 'terpanggil' dengan adanya 'sirine' dari kentongan. Kentongan saat itu dibunyikan sebagai pertanda bahwa Mami Yola dalam situasi 'bahaya'.

"Kentongan dari rumah sekitar di Berlan dibunyikan. Saksi mahkota bilang dia ikut juga mukul kentongan," lanjut Eko.

Kentongan itu dibunyikan manakala nampak polisi mendatangi rumah Mami Yola. Anak Mami Yola, diketahui tinggal di Berland. "Itu dipukul kalau ada polisi datang. Atau situasi darurat. Biar datang semua ke situ buat melindungi bandar," terang dia.

Rumah Mami Yola ini berada di gang sempit yang hanya muat dua motor. Rumahnya juga diketahui dijadikan sebagai lapak untuk mengkonsumsi narkoba. Saat penggerebekan pekan lalu, ditemukan sekumlah alat jarum suntik bekas pakai di sekitar rumah Mami Yola.

"Dia ada tempat khusus di lantai 2 untuk tempat memakai. Jadi kalau orang datang, mereka datang nggak akan naro motor di situ tapi di seberang naik ojek diantar, jadi orang enggak akan tahu karena kalau dia naik motor rame-rame kan jalan sempit pasti macet pasti akan ketauan," pungkasnya.


Sumber : detik.com






Loading...
loading...
Loading...

BERITA LAINNYA