Memilukan, Dulu Mantan Atlet Ini Jadi Andalan Jateng, Kini Dilanda Kusta Dan Katarak

Selasa, 16 Agustus 2016 - 08:13
Marcus Tugiman

Sungguh memperihatinkan kehidupanMarcus Tugiman (58) saat ini. Ia merupakan seorang mantan atlet yang berjasa mengantarkan Jateng ke peringkat IIIPekan Olahraga Nasional (PON) XI 1984 di Jakarta. Pria inilah yang mempersembahkan beberapa medali untuk Provinsi Jateng dalam cabang olahraga bersepeda. Namun kini kondisinya memilukan, matanya kini tertutup katarak, beberapa jari tangan dan kakinya juga hilang digerogoti oleh penyakit kusta yang pernah dideritanya.

"Saya ingin menjadi pelatih sepeda di Jawa Tengah. Tapi kondisiku sudah seperti ini. Saya berharap masih bisa membantu atlet sepeda," kata pria yang tinggal di Kampung Tanggungrejo, RT 1 RW 5, Tambakrejo, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang, pekan lalu.


Marcus menyadari tidak layak menjadi seorang pelatih. Akibat katarak yang dialaminya, ia tidak mampu melihat secara normal.

"Saya tidak tahan melihat lama. Apalagi kena matahari, mata saya terasa pedih," ujarnya.

Sementara jarinya yang terputus setengah, membuatnya sulit memegang sesuatu. Apalagi memegang stang sepeda.Marcus kini bekerja sebagai pemulung. Setiap hari, ia memungut rongsokan yang masih bisa didaur ulang. Atau ia membeli barang bekas milik tetangga seperti besi dan botol plastik.

Marcus tinggal bersama istrinya, Ngatminah (45), serta tiga orang anak di rumah tembok setengah jadi hasil bantuan. Di sebelah rumahnya, Marcus meletakkan barang rongsokan.

"Dulu setelah tidak jadi atlet, saya kerja di tambak. Karena lama terkena air tambak, saya terkena kusta. Baru dua tahunan ini saya mencari dan mengumpulkan rongsokan," tuturnya.

Marcus bercerita dirinya berasal dari keluarga tak mampu. Sejak kecil gemar bersepeda. Menjelang remaja, bermodal sepeda jengki bekas, Marcus bergabung Persatuan Balap Sepeda (PBS) Semarang tahun 1980.Marcus kemudian diarahkan oleh pelatih PBS sebagai pembalap spesialis road race yaitu, Nomor Jalan Raya. Setiap ada kejuaraan balap sepeda tingkat lokal (Kota Semarang) atau regional (Jawa Tengah), Marcus selalu naik podium sebagai juara.Atau paling tidak, dia masuk kategori tiga besar dan berhak mendapat kalungan medali.

"Rasanya senang sekali naik podium dan dikalungi medali," kata Marcus mengenang masa lalu.

Puncak karier Marcus pada 1984. Ia meraih Juara III Balap Sepeda Tour de Jawa rute Surabaya-Jakarta. Sebelumnya, ia meraih Juara I Pekan Olahraga Jateng di nomor Laps Race 50 round.Marcus kemudian menjadi salah satu pembalap andalan ISSI (Ikatan Sport Sepeda Indonesia) Jateng menghadapi PON XI di Jakarta.

"Waktu itu saya sempat ditawari pindah ke PBS Marinir Surabaya atau ke PBS Lampung. Semua saya tolak karena saya cinta Jateng," tegasnya.

Berhentinya Marcus dari dunia balap sepeda karena hal sepele. Sepeda balap yang dibelikan KONI Jateng yang khusus untuk perlombaan, hilang.Sepeda itu dibawa kabur tim mekanik ke Sulawesi.

"Saya marah dan mutung setelah kehilangan sepeda. Saya tidak berani ngomong dan minta sepeda lagi. Harganya mahal. Saya sendiri tidak mampu membeli," ungkapnya.

Setelah berhenti dari balap sepeda, Marcus bekerja seadanya. Ia pernah menjadi tukang kayu. Ia kemudian menikahi wanita yang dicintainya pada 1990 yang sampai kini menemani hari-harinya.Untuk menambah pendapatan, Marcus bekerja di tambak milik seorang warga. Namun, ia akhirnya terserang penyakit kusta pada 1996.Semua harta yang didapat saat menjadi atlet maupun setelah menikah, telah habis.

"Kemudian saya disarankan minta bantuan ke YSS Soegijapranata. Akhirnya dibantu pengobatan kusta pada tahun 2000 hingga setahun kemudian saya sembuh," katanya.

Setelah sembuh, Marcus kembali bekerja di tambak. Namun kali ini di bagian angkut, tidak lagi di bagian air. Kondisinya yang kehilangan beberapa jari tangan dan jari kaki, membuatnya tidak sanggup bekerja terlalu berat. Hingga akhirnya anak-anaknya yang sudah bekerja meminta Marcus untuk istirahat di rumah saja.

"Setelah berhenti kerja berat, saya kemudian menjadi pemulung hingga sekarang ini," jelasnya.






Loading...
loading...
Loading...

BERITA LAINNYA