Mertua Ini Maunya Perempuan Jadi Raja Di Rumah Tangga

Kamis, 22 Oktober 2015 - 20:53
Ilustrasi Perceraian

Minten (59) memiliki pemikiran yang berbeda, sejarah dan budaya mempengaruhi pemikiran ibu ini. Wanita yang tinggal di Wonorejo, Surabaya, ini mempercayai jika dalam rumah tangga, wanitalah yang harus menjadi pemimpin. Hal itu tidak lepas dari sejarah Kerajaan Kediri yang dianutnya, kerajaan ini selalu dipimpin seorang wanita. Prinsip inilah yang dipegang teguh oleh ibu tiga putri.

Minten memang terpengaruh sejarah, ia bahkan pandai bercerita tentang kerajaan Mataram, Sriwijaya, Panjalu, Majapahit, hingga Dhoho dan sebagainya. Prinsip kepemimpinan wanita iniah yang ditanamkan pada keempat putrinya. Dalam sejarah Kediri, wanitalah yang jadi pemimpin, secara turun temurun dirinya sebagai keturunan Kediri memegang prinsip tersebut, termasuk dalam rumah tangga.

Saat putrinya dilamar pria, sang menantu dijejali dengan wejangan tentang kepemimpinan ini. Minten menasehatkan agar pria jangan sok jadi pemimpin dalam rumah tangga lantaran pemimpin sesungguhnya adalah wanita.

Wejangan ini manjur pada semua mantunya, mereka pun menurut pada istri mereka. Dominasi sikap dan keputusan yang diambil istri pun lebih kuat dibandingkan suami. Contohnya saat mau beli rumah, sang suami selalu menuruti permintaan sang istri. Keseharian juga begitu, selain mencari uang, suami anak-anaknya jugaharus mampu melakukan pekerjaan rumah tangga. Mereka harus bisamemasak, menyapu, mencuci, dan pekerjaan rumah tangga lainnya. Apalagi semua putrinya juga bekerja mencari nafkah.

Saat awal-awal, semua menantu Minten menuruti perintah-perintah istri mereka. Ini juga tak lepas dari campur tangan Minten yang tiap minggu, keliling ke rumah anak-anaknya, memastikan wejangan dan nilai kerjaan yang dipegangnya tetap dipertahankan.

Namun lambat laun, menantunya pun protes. Mereka menolah Minten campur tangan dalam rumah tangga mereka. Puncaknya, menatu pertama dan kedua sempat mengajukan talak cerai di PA. Minten pun bertindak dengan cara lain, ia memakai dukun, ia bolak-balik Kediri menemui sang dukun. Dan rupannya ada dampaknya, sang menantu pun gagal menceraikan istri mereka.

Namun hal ini tak berlaku bagi menantu ketiga, Minten tak bisa mengatasi talak cerai dari menantu ketiganya. Sang menantu, Tumijan (36) tetap ngotot untuk bercerai. Tumijan tak mau mengikuti tradisi Minten dan putrinya. Minten tak habis akal, jika menantu tak bisa diatur maka putrinya yang akan diaturnya.

Minten persilahkan Tumijan tetap pada pendiriannya, ia percaya putrinya bisa mencari suami yang lebih ganteng dan penurut. Terlebih, putrinya memiliki paras yang cantik. Rabu (21/10/2015), Minten menemani putrinya menjalani sidang perceraian di Pengadilan Agama di Jalan Ketintang Madya, Surabaya. Wanita yang memiliki empat cucu ini menjelaskan silsilah kerajaan Kediri kepada pengunjung. Kerajaan Kediri menurut Minten selalu dipimpin oleh wanita seperti Sanghyang Ratu Permana Dewi, Ratu Tribuwana Tunggadewi hingga penerusnya.

Tuminah, putri Minten yang bercerai, juga memiliki pendirian tegas seperti ibunya. Ia tak keberatan diceraikan Tumijan, ia menilai sikapnya yang suka menyuruh sang suami sudah sesuai dengan prinsip keluarga yang dipegangnya.

Dari awal sudah diingatkan sama Ibu. Terus kenapa protesnya sekarang? Paling dia sudah punya wanita lain sehingga mau menceraikan saya, kata Tuminah.




loading...

BERITA LAINNYA