Ngeri, Santri 13 Tahun Dituduh Nyolong, Dihajar 16 Santri Hingga Tewas

Selasa, 13 Desember 2016 - 10:09
Santri Pelaku Penganiaya

Aksi main hakim sendiri tidaklah bisa ditoleransi, namun tetap saja kerap terjadi. Seperti yang dialami oleh seorang santri di Lamongan. Santri korban bernamaAdam Fawwas Syarvia (13) santri Ponpes At Taqwa Desa Kranji, Paciran. Adam dituduh mencuri uang dan hard disk, ia dianiaya oleh 16 orang temannya hingga tewas.

Sesaat sebelum peristiwa, Minggu (11/12/2016), sekitar pukul 22.00 WIB korban, pelajar kelas 1 MTs At- Taqqa, asal Desa Gampangsejati, Kecamata Laren, Lamongan itu dicuriga telah mengambil hard disk dan uang milik temannya. Korban adalah siswa yang paling dicurigai meski tidak ada bukti yang pasti. Dan kecurigaan itu semakin mengerucut.


Hingga pada Minggu (11/12/2016) malam sekitar pukul 22.00 WIB korban sedang berada di kamar santri di sebelah barat Ponpes At Taqwa. Tidak lama kemudian lampu kamar dipadamkan oleh salah satu pelaku. Setelah dipastikan lampu kamar mati, para pelaku kemudian masuk ke kamar tersebut dengan maksud menanyakan kepada korban. Terkait dugaan korban yang diduga sering mengambil uang atau barang milik temannya satu kamar.

Saat 'diinterograsi' sambil menanyakan kebenaran dugaan korban sering mengambil uang/brang milik temannya itulah para pelaku sebanyak 16 siswa melakukan kekerasan secara bergantian baik dengan tangan kosong.

"Ada yang menggunakan alat berupa papan," kata sumber.

Korban dihajar habis-habisan hingga babak belur dan mengalami luka-luka, memar di seluruh tubuh. Lantaran tidak kuat menahan sakit akibat amukan teman - temannya, korban sampai harus pamit ke kamar mandi untuk buang air kecil.
Korban dibiarkan tertatih - tatih beranjak menuju kamar kecil dengan menahan sakit.

Anehnya, hingga pukul 02.00 WIB dini hari, korban yang pamit ke kamar mandi itu tidak pernah kembali ke kamarnya lagi. Seorang santri yang juga pelaku mendapati korban dalam keadaan pingsan dan tidak sadarkan diri di kamar mandi dalam kedaan duduk bersandar dinding kamar mandi.

Mengetahui kondisi korban tak sadarkan diri karena sakit bagian dalam akibat pukulan yang dilancarkan 16 pelaku, kemudian korban di bawa ke kamar. Baru sekitar pukul 05.00 WIB setelah solat subuh, oleh Anhar Rohman, salah satu pelaku bersama teman - temannya, korban dibawa ke Klinik Medika Desa Kranji. Namun ketika tiba di klinik, diluar dugaan korban ternyata sudah dalam keadaan tidak bernafas alias meninggal.

Korban diperkirakan sudah meninggal ketika masih di dalam kamar pondok. Begitu diketahui, barulah diantara para pelaku berinisiatif membawa korban ke Klinik Medika. Berita meninggalnya salah satu siswa MTs At - Taqwa ini dilanjutkan ke petugas Polsek Paciran. Penyidik Polsek Paciran bertandang ke TKP dan melakukan pendataan. Didapati ada 16 siswa yang terlibat menganiaya korban hingga tewas.

Senin (12/12/2016) sekitar pukul 16.30 WIB, para pelaku baru tiba di Polres Lamongan. Keenam belas pelaku ini langsung digiring ke ruang pemeriksaan unit IV reskrim. Para siswa ini ada yang masih mengenakan sarung dan baju seadanya yang mereka pakai saat diamankan polisi. Mereka dikawal salah seorang pengajar di Ponpes At - Taqwa hingga masuk ke ruang unit IV reskrim.

Sayang, ketika sang guru berbaju koko warna putih dikonfirmasi hanya diam seribu bahasa. Sementara seorang pelaku ditanya saat digiring menuju ruang reskrim mengaku, korban dianiaya karena mencuri.

"Mencuri hard disk sama uang," jawab pelaku singkat.

Mengetahui itu, sang guru buru - buru meminta siswanya diam dengan aksen bahasa tubuhnya, tangan kiri sang guru menekan kepala dan pundak muridnya. Spontan siswa ini tertunduk diam dan melajutkan jalan menuju ruangan pemeriksaan. Hingga berita ini dikirim, para pelaku masih menjalani pemeriksaan. Sementara sejumlah penyidik masih intens memeriksa para pelaku. Pemeriksaan ini melibatkan penyidik unit I, II, III dan IV. Sementara itu Kasubag Humas, AKP Suwarta mengatakan, pemeriksaan masih berlangsung. Sejauh mana keterlibatan diantara para mereka tentu harus meninggu final pemeriksaan. Bahkan setelah itu tentu akan dikakukan gelar perkara.

"Nunggu selesai pemeriksaan," kata Suwarta.




Loading...
loading...

BERITA LAINNYA