Pengakuan Mengejutkan Pakar Yang Hipnotis Jessica, Temukan Banyak Kejanggalan

Sabtu, 12 Maret 2016 - 12:22
Jessica Wongso

Kirdi Putra, pakarhipnotis forensik dan mikro ekspresi pernah mewawancarai Jessica Kumala Wongso, tersangka kasus pembunuhan Wayan Mirna Salihin. Kurdi menuturkan adanya beberapa kejanggalan. Waktu itu Kirdi diminta membantu polisi mewawancarai Jessica, akhir Januari 2016, saat Jessica belum jadi tersangka. Kirdi mewawancarai dengan metode hipnotis dan membaca ekspresi mikro wajah Jessica.

"Hipnotis itu menurut siapa? Kalau awam memang seseorang di bawah sadar. Tapi sebenarnya sadar, alter state of focus, jadi kondisi fokus ditingkatkan, sehingga otak seseorang bisa ambil data-data lama. Matanya terpejam, tapi orang berasumsi itu tidak sadar, ditambah missleading lagi di acara-acara hiburan nggak karuan," jelas Kirdi.


Kirdi juga menyinggung perkataan kuasa hukum Jessica di TV yang menyamakanmetode hipnotis forensiknya dengan acara hipnotis Uya Kuya,

"Ngawur itu. Berbeda" kata Kirdi.

Kirdi menjelaskan jika metode hipnotis forensik yang diterapkannya di saat Jessica sadar meski matanya terpejam, bukan tidak sadar.Hasilnya, menurut Kirdi, sinkron, ada kejanggalan.

"Apa saja yang dilakukan Jessica, datang ke GI (Grand Indonesia), cari barang-barang yang diberikan, jam datang, jam pesan, terlalu sempurna, exact time, dia jawab sampai menit," tutur Kirdi.

Kirdi mengungkap jika biasanya saat ditanya mengenai waktu, oranghanya mengingat digit jam awalnya. Tapi yang aneh, Jessica menyebutkan hingga tepatsampai menit digit satuannya, dan ia mengatakannya konsisten.

"Dia masih ingat sampai menit, exact. Terlalu sering, terlalu tepat," tuturnya.

Hal janggal lainnya,Kirdi membaca makro ekspresi yang sudah ditunjukkan kepadanya secara menyeluruh. Pembacaan makro ekspresi dilakukan karena CCTV dinilai kurang tajam.

"Hasil CCTV yang saya asumsikan respons dari Mirna geletak jeder, ya ini masih persepsi, itu seperti nggak ada masalah," paparnya.

Kenaehan yang lain yaitu saatJessica yang tinggal di Sunter menanyakan ada atau tidaknya dokter umum di Grand Indonesia beberapa hari sebelum bertemu Mirna.

"Kenapa Anda tanya di sekitar situ (GI) ada dokter umum? Alasannya dia minta Vitamin B dan sebagainya. Logikanya, dia Desember awal sampai di Indonesia, tinggal di Sunter, ada banyak dokter umum di situ, ngapain nunggu selama itu? Tapi itu juga nggak salah sih," jelas dia.

Jessica memang memiliki poin-poin alibi yang sangat jelas, tidak menandakan dia salah. Tapi, imbuh Kirdi, terlalu tinggi tingkat keanehannya. Memang tak lantas bisa dikatakan Jessica bersalah karena keanehan tersebut. Namun keanehan tersebut, menurut Kirdi, meningkatkan kecurigaan.

"Ada banyak kebetulan-kebetulan. Kebetulan datang duluan, kebetulan tasnya ditaruh di atas meja, kebetulan celananya robek, kebetulan tahu jam-jam tepatnya," imbuh Kirdi.

"Bicara bahasa hukum, dia nggak salah sampai dibuktikan di pengadilan. Dari sisi kewajaran, agak sulit mempercayai semua yang disampaikan Jessica seperti itu," jelasnya.

Sumber : detik






Loading...
loading...
Loading...

BERITA LAINNYA