Pertanyaan Menggelitik, Mengapa Lima Teroris Bom Sarinah Ditembak Mati?

Sabtu, 16 Januari 2016 - 15:36
Salim Said

Ada pertanyaan menggelitik yang dilontarkan oleh Profesor Salim Said dalam diskusi 'Mengapa Teror Jakarta Gagal Meneror Kita?', di Gado-gado Boplo, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (16/1/2016). Salim Said, Guru Besar Universitas Pertahanan ini menanyakan, mengapa lima teroris pelaku peledakan bom Sarinah ditembak mati? Bukankah jika dilumpuhkan bisa diinterogasi untuk mengungkap jaringannya?

"Kenapa semua pelaku ditembak mati? Kenapa tidak dilumpuhkan saja supaya kemudian bisa diinterogasi?" tanya Salim.

Pertanyaan itu langsung dijawab mantan Kepala Densus 88, Irjen (Purn) Bekto Suprapto. Menurutnya, ada kondisi-kondisi tertentu di lapangan yang memaksa polisi menembak mati teroris di tempat.

"Pengalaman saya dahulu, teroris itu pasti membawa bom dua jenis. Ada yang langsung meledak dan ada yang pakai delay 2-3 detik. Mereka selalu siap menekan pemicu kapan pun. Pilihannya ada dua, pertama menembak mati teroris atau kedua teroris meledakkan bom yang bisa membunuh polisi dan orang-orang sekitar," jawab Bekto seperti dilansir detik.

Bekto mengatakan, semua teroris sudah siap mati, mereka lebih memilih mati ketimbang diinterogasi atau ditangkap hidup-hidup.

"Anak buah saya pernah bertanya, jika ada teroris yang mendekat kemudian dia buka rompi untuk meledakkan diri, apa yang harus dilakukan? Saya jawab, tembak kepalanya," ujarnya.

Disebutkannya, personel di lapangan tidak serta-merta memutuskan untuk menembak mati teroris. Sering kali penyebabnya adalah baku tembak, sehingga tembakan bisa langsung membunuh.

Salim kemudian bertanya lagi, apakah mungkin ada pasukan khusus yang katakanlah penembak jitu hanya membawa senjata melumpuhkan?

"Dalam kondisi mendadak seperti kemarin, perlu waktu untuk mempersiapkan posisi penembak jitu. Kita harus apresiasi kepolisian kita karena dengan spontan langsung turun ke lapangan," tandasnya








Loading...
loading...
Loading...

BERITA LAINNYA