Reuni Akbar Alumni 212 Umumkan Rizieq Sebagai Imam Besar Indonesia

Minggu, 03 Desember 2017 - 14:46
Rizieq

Kongres Alumni 212 menghasilkan sejumlah keputusan, salah satunya menetapkan Rizieq Syihab menjadi Imam Besar Umat Indonesia. Keputusan kongres yang digelar di Wisma PHI, Cempaka Putih, Jakarta, pada Kamis 30 November hingga 1 Desember, itu disampaikan dalam acara Reuni Akbar Almuni 212, di Monas, Jakarta, Sabtu (2/12). Ketua Presidium Alumni 212 Slamet Maarif mengatakan, pihaknya telah rampung menggelar Kongres Alumni 212 yang dihadiri perwakilan dari 22 provinsi.

"Alhamdulillah, selama dua hari kemarin kami sudah menyepakati akan membuat simpul-simpul di wilayah-wilayah, 22 provinsi yang ada," ujar Slamet, di Monas.


Dikatakan, kongres tersebut telah menetapkan keputusan atau maklumat Jakarta, dan sudah diperbanyak serta akan dibagikan dalam tiga bahasa yakni Arab, Inggris, dan Bahasa Indonesia kepada masyarakat, termasuk kepada pemerintah. Salah satu keputusan penting dalam kongres itu adalah menetapkan Rizieq Syihab sebagai Imam Besar Umat Indonesia.

"Ingin kami sampaikan inti maklumat kami dari hasil kongres, dari 22 provinsi yang hadir, menguatkan kembali, berkomitmen kembali bahwa seluruh alumni 212 menyatakan ikrarnya untuk mengangkat Rizieq Husein Syihab sebagai Imam Besar Umat Indonesia," ungkapnya.

Ia menambahkan, kongres juga meminta kepada pemerintah untuk segera menghentikan bentuk kriminalisasi kepada Rizieq, sebab kasus yang ada dinilai dimanipulatif, penuh kebohongan dan fitnah.

"Kemudian, kami alumni 212 merasakan tiga tahun pemerintah sekarang tidak terlalu ramah dengan umat Islam. Bahkan kami merasakan semakin lama semakin menggigit, sikap pemerintah kurang ramah terhadap umat islam. Bahkan ada yang merasa pemerintah, ada indikasi menghendaki Islamphobia," katanya.

Slamet mengungkapkan, indikasi Islamphobia itu terlihat ketika ujaran kebencian menjadi air bah di media sosial, namun pemerintah terkesan tidak adil dalam menanganinya.

"Ketika ujaran kebencian oleh orang-orang yang pro penista agama, terlihat begitu leluasa, begitu dilindungi. Sementara jika berkenaan dan berseberangan dengan kekuasaan, begitu sigap mengejar, menangkap dan melakukan proses hukum secara cepat," jelasnya.

Semisal, katanya, kasus dugaan ujaran kebencian yang dilakukan Ketua Fraksi Nasdem Viktor Laiskodat di NTT, yang terkesan tidak ditangani dengan baik. Sementara, kasus yang menjerat Buni Yani menggungah diduga video editan Basuki Tjahaja Purnama terkait Al-Maidah ditangani cepat.

"Kami merasakan, kasus Viktor Laiskodat yang pidatonya menunjukan sikap Islamphobia, bahkan mengancam pembunuhan di mana-mana, tetap hidup nyaman dan dilindungi oleh kekuasan. Sementara seseorang yang berjasa menyadarkan terjadinya adanya penistaan islam dijatuhi hukuman pidana 1 tahun 6 bulan. Itu lah pak Buni Yani," kata dia.

Dia melanjutkan, saat ini kekuatan koorporasi asing dan aseng telah melampaui batas di negara ini.

"Karenanya pembangunan ke depan harus diutamakan kepada WNI asli. Jangan kemudian asing dan aseng menguasai negeri yang kita cintai. Perjuangan kita belum selesai. Setelah 212 tahun kemarin perjuangan kita belum selesai. Justru reuni kita di 212 menjadi semangat baru untuk menjadikan Indonesia lebih baik lagi," tandasnya.

Kegiatan Reuni Akbar Alumni 212 telah digelar sejak subuh hingga siang hari ini, di Monas, Gambir, Jakarta Pusat. Sejumlah tokoh hadir dalam perhelatan itu antara lain Amien Rais, Fadli Zon, Opick, Anies Baswedan, Fahri Hamzah, dan lainnya.






Loading...
loading...
Loading...

BERITA LAINNYA