Satu Lagi Kematian Aneh Pengikut Dimas Kanjeng Taat Pribadi

Minggu, 30 Oktober 2016 - 15:46
Juniarti

Dimas Kanjeng Taat Pribadi menjadi tersangka dalang pembunuhan 2 orang santrinya. Tak hanya kematian dua santri ini, ada pengikut Dimas Kanjeng Taat Pribadi yang meninggal secara misterius. Tiga pengikut Dimas Kanjeng meninggal dengan kuku menghitam, dan jumlahnya kini bertambah. Hari Jumat malam (28/10/2016), pengikut Taat Pribadi, Juniarti (60), warga Kabupaten Bondowoso, melaporkan kematian sang suami ke Mapolres Probolinggo. Suaminya, IS (65) meninggal dengan ciri-ciri yang sama dengan para pengikut yang lain, tak wajar.

Junarti datang bersama keluarganya ke mapolres dan langsung ditemui Kapolres Probolinggo AKBP Arman Asmara Syarifuddin. Dia kemudian menyampaikan kronologi meninggalnya sang suami. Juniarti juga menyerahkan sejumlah benda dari Taat Pribadi. Misalnya, minyak, sejumlah uang (mata uang Indonesia dan Turki), dapur ATM, jimat, serta foto-foto Taat Pribadi.

Menurut Juniarti, IS meninggal pada 13 September silam atau sepekan sebelum penggerebekan dan penangkapan terhadap Taat Pribadi. Laporan itu menambah daftar panjang pengikut yang meninggal dengan cara tidak wajar. Sebelumnya, laporan serupa juga dibuat keluarga Kasianto asal Surabaya, Najemiah Muin asal Makassar, dan I asal Kabupaten Probolinggo.

Juniarti mengaku dahulu bertugas sebagai juru masak di padepokan. Dia dan suaminya juga menjadi pengikut sejak 2012. Karena itu, Juniarti ditugaskan menjadi juru masak. Sama seperti pengikut lainnya, Juniarti dan suaminya juga setor mahar.


"Saya juga memberikan uang mahar Rp 1,5 juta kepada Taat Pribadi," katanya.

Nah, pada malam sebelum meninggal, IS dan Juniarti yang tinggal di tenda hendak bergantian mengambil wudu.

"Waktu itu, saya dan suami berada di dalam tenda padepokan. Tengah malam, suami saya keluar tenda untuk wudu. Setelah suami saya balik, saya keluar untuk ambil wudu. Pas balik ke tenda, suami saya terlentang di tenda. Awalnya saya pikir tidur, ternyata sudah meninggal," terangnya.

Saat itu kondisi kuku suaminya menghitam dan alat kelaminnya diikat karet pentil. Karena kematian mendadak disertai sejumlah kejanggalan itulah, Juniarti menduga suaminya dibunuh. Namun, karena tidak bisa berbuat banyak, jenazah langsung dibawa pulang ke Bondowoso dan dimakamkan di sana. Sejak saat itu, Juniarti tak kembali ke padepokan.

Sementara itu, AKBP Arman Asmara Syarifuddin menyatakan, dengan adanya laporan keluarga korban IS, pihaknya menemukan titik terang untuk mengusut kasus pembunuhan baru yang menimpa pengikut padepokan. Juga, menyelidiki sejumlah kuburan yang diduga menjadi korban pembunuhan.






Loading...
loading...
Loading...

BERITA LAINNYA