Setya Novanto Senyum-Senyum Dibela Ahmad Dhani

Rabu, 31 Desember 1969 - 19:00
Ahmad Dhani setya Novanto

Musisi Ahmad Dhani mendatangi Ketua DPR Setya Novanto untuk memberikan dukungan secara moril. Dhani menemuinya diruang kerjanya, Gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (14/12/2015). Dhani hendakmembahas RUU Kerukunan Umat Beragama sekaligus memberidorongan moril untuk Novanto.

Ahmad Dhani juga meminta agar MKD bersikap beranidan tak menjadi banci. Terutama masih ada opini jika rekaman percakapan Novanto, Reza Chalid, dan Presdir PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin adalah ilegal.


"MKD harus berani menentukan sikap bukti rekaman percapakan ini ilegal atau tidak ilegal. Kalau tidak ilegal, tidak perlu takut terhadap desakan masyarakat. Jadi, dalam hal ini MKD tak boleh bersikap banci. MKD harus jadi pemberani," ujar Dhani.

Dhani menyoroti media massa yang seolah-olah menghakimi Novanto seperti maling yang ingin digebukin. Beberapa nama pun disebut seperti misalnya pakar hukum tata negara Mahfud MD dan aktivis sosial Romo Benny Susetyo yang menghakimi Novanto. Kejadian ini pernah dialami Dhani ketika dihakimi seperti Novanto.

"Menurut saya, media atau siapapun itu Pak Mahfud MD, Benny Soesetyo yang menghakimi Pak Novanto sama saja melihat orang yang diduga maling terus digebukin. Saya pernah diduga maling, saya enggak terima. Sebagai bangsa dan sebagai warga negara yang baik saya enggak terima," tuturnya.

SetyaNovanto terlihat tersenyum sumringah mendengarkan pernyataan Dhani.

"Yang saya lihat kondisinya Pak Novanto ada beberapa orang yang main hakim sendiri. Padahal, ada sidang MKD. Tapi, MKD harus tegas sebagai orang yang kita anggap mulia. Katakanlah kebenaran kalau itu benar," ujar Dhani.

"Saya pernah dihakimi media. Saya pernah merasakan apa yang dirasakan Pak Novanto sekarang ini dan menurut saya media mulai terlalu jauh berpihak dan ini nggak adil," tegas Dhani lagi.

Dirinya kemudian berharap Presiden Jokowi bersikap tegas terhadap para menterinya yang melakukan tindakan di luar batas. Jika presiden bersikap tegas seperti era Orde Baru atau zaman Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), tidak terjadi kejadian seperti sekarang ini.

"Ini memang ada miss komunikasi atau miss manajemen di eksekutif. Dan orang harus melihat ini bukan kasus etika dan hukum, tapi kasus politik," tandasnya.






Loading...
loading...
Loading...

BERITA LAINNYA