Sopir Bus Tewas Kehabisan Darah Karena Dilempari Batu, Tetap Antar Penumpang Ke Terminal

Jumat, 01 September 2017 - 21:57
Misdi

Suasana duka menyelimuti sebuah rumah di Sumber Jetis, RT 3 RW 7, Kelurahan Sumber, Banjarsari, Solo, Kamis (31/8/2017) malam.

Pemilik rumah ini adalah Misdi (51), sopir bus patas PO Eka jurusan Surabaya-Magelang. Ayah tiga anak itu meninggal Kamis dini hari. Dia diduga kehabisan darah setelah terluka kena lemparan batu di bagian kaki saat mengemudi.


Satu per satu tetangga rumah berdatangan setelah shalat Isya, mereka mengikuti tahlilan di rumah yang sederhana itu.

Nanik, istri Misdi, sesekali mengusap air mata ketika menyambut uluran tangan peserta tahlil yang mengajaknya bersalaman.

Air matanya berlinang saat para tamu itu mulai mengaji, mendoakan Misdi. Sesekali dia lirih melafalkan ayat-ayat suci.

Setelah tahlilan selesai dan tetangga pamitan pulang, mulailah Nanik bertutur mengenai kejadian yang menimpa suaminya. Musibah ini terjadi saat Misdi mengemudikan bus dari Surabaya ke Magelang via Yogyakarta.

"Awalnya saya menelepon suami hari Kamis, pukul 01.30 pagi. Beliau masih berada di Mantingan, Ngawi, ketika itu. Saya tak punya firasat apa pun. Hanya saja saya tak bisa tidur," ungkap Nanik.

Sekitar pukul 03.00, lanjut dia, Misdi balik meneleponnya.

"Waktu itu beliau setengah berteriak di hape, 'Aku disawat (saya dilempar batu). Kejadiannya di Masaran, Sragen,'" ujar Nanik menirukan omongan Misdi.

Merasa panik, Nanik langsung bertanya kepada suaminya mengenai ukuran batu tersebut.

"Besar, kena kaki saya," paparnya mengulangi suara Misdi di telepon.

Namun, sang suami menyatakan baik-baik saja sehingga tak ada yang perlu dikhawatirkan. Meski merasa gundah, Nanik berusaha tenang mendengar perkataan tersebut.

"Dia bilang masih bisa nyopir," jelas Nanik seraya mengusap air mata menggunakan tisu.

Dalam keadaan terluka, Misdi masih bisa membawa bus tersebut ke Terminal Tirtonadi, Solo. Tanpa mengobati luka, dia kemudian memutuskan pulang ke rumah.

"Setelah semua penumpang dioper ke bus lain, suami saya membawa bus sampai ke depan gang menuju rumah. Sampai gang itu kira-kira setengah 4 pagi," lanjutnya.

Nanik yang saat itu mencoba terjaga kaget mendengar teriakan para tetangga memanggil namanya. Mereka kebetulan tengah begadang. Tak mempedulikan apa pun, Nanik langsung berlari ke bus tersebut.

"Sampai di dalam bus, saya lihat suami sudah bersandar ke setir bus," ungkapnya.

Meski sempat dibawa ke Rumah Sakit Panti Waluyo Solo, nyawa Misdi tak bisa diselamatkan. Almarhum kemudian dikubur di Taman Pemakaman Umum Boto, Jetis, Kamis pukul 13.00.

"Suami saya kehilangan banyak darah selama di perjalanan dari Sragen sampai ke gang depan rumah," ujar Nanik.

Dia menjelaskan, selama hidup Misdi tak pernah memiliki musuh. Begitu pula selama menjadi sopir bus sejak 1989 atau 28 tahun lalu.

"Beliau baik sekali orangnya. Saya tak yakin kalau punya musuh. Pelemparan batu itu sudah kehendak Yang Maha Kuasa," tutur Nanik terisak.

Nanik mengaku tidak berniat melaporkan kejadian ini ke polisi.

"Saya tak berniat melapor karena puluhan tahun menjadi sopir bus, pelemparan itu sudah beberapa kali terjadi. Itu sudah kehendak Allah, saya ikhlas," ungkapnya.

Rekan-rekan kerja Masdi sudah datang melayat pada Kamis sore. Nanik menyebut manajemen PO Eka tampaknya akan datang pada Jumat besok.

Insiden pelemparan batu ini menjadi viral setelah diunggah dalam status pemilik akun Abu Shoffiyah Nurdin di Facebook.

Pemilik akun ini juga mengunggah kondisi bus Eka berpelat nomor S7331US yang dikemudikan Misdi setelah terkena lemparan batu. Kaca depan persis di depan kursi pengemudi bolong besar.






Loading...
loading...
Loading...

BERITA LAINNYA