Terungkap Nama-Nama Jenderal Di Belakang Perusahaan Yang Sebabkan Kabut Asap

Sabtu, 07 November 2015 - 18:31
Nama Jenderal Komisaris Wilmar Group

Imam B. Prasodjo mengungkap nama sejumlah jenderal yang menjadi komisaris di perusahaan perkebunan Wilmar Group. Perusahaan ini memiliki perkebunan di wilayah Sumatera dan Kalimantan, nama perusahaan ini dikaitkan dengan masalah kabut asap, dan pembakaran hutan. Perusahaan Wilmar Group didirikan oleh Martua Sitorus, pengusaha asal Medan.

Imam memposting foto ucapan selamat kepada Joko Widodo dan Jusuf Kalla sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI dari perusahaan perkebunan Wilmar Group. Ia mempostingnya di akun Facebook miliknya, pada Rabu (4/11/2015).


"Coba perhatikan! Mungkinkah penegak hukum (kepolisian dan kejaksaan) akan mampu bertindak tegas dalam melakukan tindakan hukum bila di dalam raksasa perusahaan perusahaan perkebunan yang memiliki potensi terkait dengan 'pembakaran hutan' ternyata di belakangnya ada komisaris para mantan pembesar dalam lembaga penegak hukum? Entahlah!" tulis Imam.

Dari foto ucapan selamat itu, di bagian bawah tertulis deretan nama Jenderal yang duduk di dewan komisaris, nama-nama itu antara lain Jend Pol (Purn) Drs. Sutanto, Komjen (Purn) Drs. Nanan Soekarna, Mayjen TNI (Purn) Drs. Hendardji Soepandji sampai Irjen Pol (Purn) Drs. Paiman.

Imam berpendapat bahwa hal terberat dalam mengatasi bencana kabut asap yaitu tatkala adanya komplikasi hukum dan kaitan tarik menarik kekuatan yang ada di dalamnya.

"Sebagai bangsa, kita menangis atas kenyataan ini. Di tengah kehidupan rakyat yang begitu banyak masih dalam derita, jutaan petani dan buruh yang bergaji tak cukup menyambung hari."

"hingga jutaan perempuan Indonesia terpaksa harus mengais tetesan rizki menjadi kuli, babu, TKI, dan menyabung nyawa, meninggalkan anak dan suami," kata Imam.

Belum lagi di dalam hutan sana juga ada ratusan ribu kehidupan suku suku pedalaman yang selama ini dengan setia menjaga hutan sumber kehidupan warisan ribuan tahun nenek moyang.

Tak terbayang juga jutaan kekayaan alam, keragaman flora dan fauna yang menjadi sumber kekayaan bangsa, dan banyak lagi.

"Ternyata hancur dalam cengkraman raksasa bisnis yang entah untuk kemakmuran siapa. Lihatlah hutan dibakar, digadaikan, diobral untuk kemewahan dan kerakusan di atas derita orang orang yang harusnya pemilik paling sah negeri ini," kata Imam.

Imam mengajak kita merenungkan saat membaca UUD 1945 Pasal 33 yang telah begitu jelas menyatakan: "Cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara" (Ayat 2). Juga disebutkan: "Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat" (Ayat 3).






Loading...
loading...
Loading...

BERITA LAINNYA