Usai Minta Saham Freeport, Kini Beredar Surat Tagihan Setya Novanto Ke Pertamina

Rabu, 18 November 2015 - 18:20
Setya Novanto

Nama Setya Novanto, Ketua DPR saat ini sedang hangat-hangatnya diperbincangkan oleh masyarakat dan media. Setya Novanto sebelumnya diduga mencatut nama Presiden Jokowi untuk meminta saham Freeport, kini Setya disebut-sebut menagih pembayaran pada PT Pertamina.

Kini beredar surat tertanggal 17 Oktober 2015 dari Setya Novanto kepada Direktur Utama PT Pertamina Dwi Soejipto. Setya Novanto menagih pembayaran kepada PT Pertamina terkait biaya penyimpanan bahan bakar Minyak (BBM) yang disimpan oleh PT Orbit Terminal Merak (OTM).

Di dalam surat tersebut, Setya Novanto menyebutkan nama mantan Direktur Pemasaran dan Niaga PT Pertamina Hanung Budya yang sudah berjanji membayar tagihan tersebut.

"Sesuai dengan pembicaraan terdahulu dan informasi dari bapak Hanung Budya Direktur Pemasaran dan Niaga, sekiranya kami dapat dibantu mengenai addendum perjanjian jasa penerimaan, penyimpanan dan penyerahan Bahan Bakar Minyak diTerminal Bahan Bakar Minyak antara PT Pertamina (persero) dengan PT Orbit Terminal Merak yang sudah bapak terima beberapa minggu lalu," isi surat Setya Novanto kepada Pertamina.

Setya Novanto juga melampirkan dokumen yang isinya sekitar notulensi rapat negosiasi awal antara Pertamina dan PT Orbit Terminal Merah. Di dalam surat tersebut juga disebutkan penyesuaian kapasitas tangki timbun di PT Orbit Terminal Merak, dan dokumen kerja sama pemanfaatan Terminal BBM Merak, dan lainnya.


Mengenai persoalan Freeport, Setya Novanto tak membantah adanya pertemuan dengan pimpinan PT Freeport Indonesia. Ia mengatakan bahwa dirinya menyampaikan seperti halnya yang pernah dibicarakan dengan Presiden Jokowi.

"Saya pernah kedatangan beliau (PT Freeport Indonesia), dan saya harus menyampaikan secara jelas apa yang telah disampaikan Presiden kepada saya. Bahwa apa yang jadi kepentingan rakyat, tentu ini menjadi hal yang harus saya sampaikan," kata Novanto.

Politikus Golkar itu menuturkan, Presiden dan Wapres sangat perhatian khususnya yang berkaitan dengan masalah bagi hasil dan tanggung jawab sosial atau CSR yang khusus untuk kepentingan rakyat dan khusus rakyat Papua.

"Jika saya membawa nama beiau yang bersangkutan (Presiden dan Wapres), tentu saya harus berhati-hati," tuturnya.

Novanto menuturkan, sebagai pimpinan DPR, dirinya tidak mungkin meminta jatah saham seperti yang dilaporkan oleh Sudirman Said kepada Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD).

Menurutnya, Freeport perusahaan tambang asal Amerika Serikat sangat berhati-hati dengan saham.

"Berkaitan dengan saham harus hati hati dan harus dinilai dan tidak gampang untuk diberikan. Perusahaan Amerika keluar Rp 100 ribu saja itu betul-betul harus dilaporkan, apalagi jumlah jumlah yang besar, apalagi saham," katanya.






Loading...
loading...
Loading...

BERITA LAINNYA